desa ngasem

sejarah desa ngasem

  • “Kapan desa ini pertama kali berdiri dan apa asal-usul nama desa tersebut? Desa Ngasem diambil dari tokoh yang bernama Mbah Sarina.”
  • “Siapa saja tokoh atau kelompok masyarakat yang pertama kali mendirikan pemukiman di desa ini? Mbah Sarina dan Mbah Bolem, dua tokoh yang mengetahui asal usul desa itu.”
  • “Apakah ada legenda atau cerita rakyat yang berkaitan dengan awal mula pembentukan desa ini? Tidak ada legenda yang diceritakan dengan pastinya.”

Cagar budaya dan tempat bersejarah desa ngasem

  • Apakah ada situs bersejarah, makam tokoh, atau bangunan kuno yang ada di desa ini? Petilasan Mbah Sarinah tentang mata air.”
  • “Bagaimana upaya pemerintah desa untuk melestarikan cagar budaya atau peninggalan sejarah tersebut? Dengan cara melaksanakan sedekah bumi.”
  • “Apakah ada tradisi atau adat istiadat khas desa yang berasal dari masa lalu dan masih dilaksanakan hingga kini? Deretan (bulat Syakban), Ruwahan, kenduren di rumah-rumah.”

Tentang desa ngasem

asal usul desa ngasem

Nama “Ngasem” diambil dari sejarah pendirian desa pada zaman dahulu. Berdasarkan cerita turun-temurun, terdapat seorang tokoh yang pertama kali membuka wilayah di Dusun Bungas. Tokoh tersebut menanam sebuah pohon asam (asem) di ujung desa—yang kini menjadi area pemakaman—dan menamai wilayah tersebut sebagai Desa Ngasem.

Pemberian nama ini juga disertai dengan harapan filosofis agar kehidupan masyarakat setempat senantiasa hidup tenteram, damai, dan sejahtera.

penggabungan dusun

Sebelum menjadi satu kesatuan desa yang utuh, wilayah Ngasem pada mulanya terbentuk dari penggabungan lima kelompok dusun, yang terdiri dari:

  • Dusun Bungas
  • Dusun Jurip
  • Dusun Gatak
  • DuSun Bendolang
  • Duasun Gondang Legi

budaya dan tradisi

Masyarakat Desa Ngasem masih melestarikan kebudayaan dan tradisi leluhur, salah satunya melalui acara tahunan Sedekah Bumi yang sering dimeriahkan dengan pagelaran seni tradisional seperti ketoprak.

tempat bersejarah

  • Vihara Bodhi Metta: Berlokasi di Desa Ngasem, vihara ini merupakan tempat bersejarah dan situs keagamaan penting yang menjadi saksi keteguhan komunitas umat Buddha di kawasan lereng pegunungan Jepara. Vihara ini menjadi pusat kegiatan keagamaan yang sarat akan nilai toleransi dan sejarah perkembangan spiritual di wilayah tersebut.
  • Situs Sumur Punden (Petilasan Mbah Sela Gondang): Di wilayah Ngasem terdapat berbagai punden atau makam leluhur desa yang dikeramatkan dan menjadi pusat kegiatan spiritual. Tempat ini menjadi titik awal sejarah desa dan sering dikunjungi masyarakat untuk berdoa atau menggelar tradisi komunal.

Kesenian dan tradisi :

  • Kesenian Kentrung Jepara: Desa Ngasem terkenal dalam sejarah sebagai pusat perkembangan kesenian Kentrung di Jepara. Kesenian tutur lisan bernapaskan Islam ini dulunya menjadi media dakwah dan hiburan rakyat yang sangat populer.
  • Tradisi Nyadran Ruwah dan Sedekah Bumi: Cagar budaya takbenda (Intangible Cultural Heritage) yang paling menonjol adalah tradisi Nyadran dan Sedekah Bumi di Desa Ngasem. Warga rutin menggelar ziarah kubur massal, membersihkan makam leluhur, hingga menggelar pertunjukan kesenian lokal seperti ketoprak sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.